Sabtu, 19 JULI 2025 • 15:19 WIB

Berkunjung ke Tugu Polwan Bukittinggi : Saksi Bisu Perjuangan Kaum Wanita Minangkabau

Author

Tugu polisi wanita (instagram/ynci_bukittinggi)

Sumbar -  Kota Bukittinggi, Sumatera Barat penuh akan nilai sejarah kemerdekaan, budaya dan tradisi yang beragam. Kota yang mempunyai julukan sebagai kota wisata ini, dulunya juga pernah menjadi Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada masa lampau. Hal ini  membuktikkan adanya semangat nasionalisme, kebangkitan dan cinta tanah air pada masyarakat.

Hal ini juga sejalan dengan adanya Tugu Polisi Wanita, yang berada di Kota Bukittinggi. Tepatnya beralamat di Jl. Moh. Syafei, Tarok Dipo, Kec. Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Tugu ini diresmikan pada 27 April tahun 1993, yang diresmikan Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) yaitu, Jenderal Polisi Banurusman. Tugu ini berukuran 6 x 6 x 8 meter, dilengkapi dengan taman yang berukuran 21m x 12m. Tugu polwan ini, memiliki sejarah dan makna, bahwa kaum perempuan juga ikut berperan dalam merebut kemerdekaan, sebagai polisi wanita. 

Baca juga: Identik dan Menjadi Simbolis Saat Pesta Pernikahan: Berikut Macam Macam Suntiang di Minangkabau

Pada awalnya, wanita pada waktu itu, belum diperbolehkan untuk bergabung menjadi polisi. Kemudian, semenjak tahun 1948, dibukalah sekolah kepolisian wanita, tepatnya 1 September 1948, di Kota Bukittinggi. Semenjak itulah, hari tersebut diperingati sebagai hari jadinya polisi wanita.

Tugu ini didirikan, sebagai pengingat sejarah, bahwasanya awal mula lahir polisi wanita untuk pertama kali, berada di Kota Bukittinggi. Ketika polisi wanita ini pertama kali dibentuk, terpilihlah 6 wanita asli minang untuk menjadi polisi wanita, pada saat itu, yaitu antara lain, sebagai berikut:


1.    Nelly Pauna
2.    Djasmainar
3.    Mariana Saanin
4.    Rosmalina Loekman
5.    Dahniar Sukotjo
6.    Rosnalia Taher

Enam Wanita inilah, yang mengikuti masa pendidikan inspektur kepolisian, bersama siswa laki laki, di SPN Bukittinggi.  Peran enam wanita ini, telah membuktikan bahwa kaum perempuan, juga mempunyai peluang, kekuatan dan kesempatan untuk bisa berkecimpung di dunia kepolisian.

Baca juga: Apa Itu Tradisi Malamang di Minangkabau? Berikut Penjelasannya


Pada awalnya polwan berada, banyak sindiran sindiran, yang melecehkan perempuan, karena bisa ikut berkontribusi di kepolisan. Sindiran tersebut, diucapkan dengan mengatakan “ mereka tersesat di dunia laki laki”.  Adanya sudut pandang seperti ini, merupakan hal yang biasa pada saat itu, karena mereka berpendapat jika ada perempuan minang, yang bekerja di luar rumah, maka hal itu dianggap tabu. Tetapi, berkat kegigihan, mereka bisa membuktikan bahwasanya, status dan kedudukan sebagai perempuan, tidak  menghalangi mereka untuk maju dan berkembang.

Perjuangan mereka tersebut, bisa menjadi contoh bagi kita dan generasi berikutnya, bahwasanya kaum perempuan bisa menjadi apapun, tanpa terhalangi status sebagai perempuan. Sebagai penerus generasi, mari kita tanamkan nilai nilai nasionalisme dan semangat perjuangan mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pengamatan Langsung Penulis, Direktorat Jenderal Kebudayaan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU