Sumbar - Minangkabau memiliki berbagai macam kesenian tradisional, baik dalam berbagai bidang seperti: tarian, musik, tarian, randai, dan sebagainya. Setiap kesenian yang ada, memiliki estetika dan ragam makna yang penuh akan nilai budaya. Salah satu kesenian asli daerah ini, yaitu Batombe. Lalu apa sebenarnya yang di maksud dengan Batombe ini? berikut penjelasannya.
Apa itu Batombe?
Batombe, berasal dari “ba” dan “tombe. Di mana “ba” di sini merupakan awalan kata dan “tombe” memiliki arti “pantun”. Sehingga dapat diartikan Batombe adalah tradisi berpantun, yang ada di Minangkabau atau berbalas pantun. Batombe merupakan kesenian berbalas pantun, dengan diiringi alat musik rabab, dan dimainkan oleh 2 orang laki laki dan perempuan atau berkelompok. Semua pemain Batombe, disebut sebagai pendendang, dan pendendang utama, juga merangkap sebagai pengiring. Dendangan yang ada di Batombe ini, merupakan ungkapan perasaan dan cerita perjalanan hidup, seperti: cinta, semangat, sedih dan lainnya. Pantun yang diucapkan, mengandung kata kiasan dan melepas hasrat hati.
Baca juga: Pemko Bukittinggi Launching Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah Kepada Warga Penerima Manfaat
Sejarah Batombe
Tradisi ini berasla dari Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan. Awal mula tradisi Baotmbe ini sendiri, belum diketahui jelasnya. Akan tetapi, dari cerita yang berkembang di masyarakat, Batombe ini pertama kali muncul saat membangun rumah adat yaitu Rumah Gadang dan masjid. Dahulunya, gotong royong kerap dilakukan dalam pembangunan infrastruktur negeri. Menurut informasi, ketika warga sedang mengambil kayu ke hutan, untuk keperluan tiang, ada satu kayu yang sudah ditebang tapi tidak bisa diangkat bahkan digeser.
Baca juga: Sinergi Kota Bukittinggi Untuk Menggapai Swasti Saba Wistara : Wujudkan Kota Bukittinggi Sehat
Berbagai usaha dilakukan untuk mengangkatnya dan sampai putus asa, dan saat itulah seorang perempuan, yang bertugas menyiapkan bekal, mendapat ide untuk memberi semangat kepada mereka untuk memindahkan kayu tersebut. Seketika mereka mulai berpantun, dan kemudian saling berbalas satu sama lain dan semua pekerja pria tersebut, sampai akhirnya kayu tersebut bisa diangkat. Dari situlah, berbalas pantun, menjadi tradisi di masyarakat sekitar.
Perbedaan Batome Dengan Tradisi Berpantun di Daerah Lain
Di daerah lain juga terdapat tradisi berpantun ini, lalu apa saja perbedaan anatar tradisi Batombe dengan tradisi berbalas pantun di daerah lain? Berikut akan dijelaskan di bawah ini.
Pada Palembang ataupun Bengkulu, kita mengenal tradisi ini, dengan nama Batang Hari Sembilan, Rejung ataupun Gitar Tunggal. Perbedaan utamanya adalah alat pengiring yang digunakan. Rejung dan Batang Hari Sembilan, menggunakan gitar, sehingga juga disebut gitar Tunggal. Sedangkan Batombe, menggunakan rabab sebagai laat pengiringnya. Pada dendang, ketiga tradsi ini memakai media yang sama yaitu pantun. Serta Pantun yang diucapkan, juga mengandung cerita kehidupan sehari hari.
Baca juga: Berikut 6 Macam Permainan Tradisional Minangkabau, Yang Bikin Nostalagia Masa Kecil
Sistem Dalam Batombe
Sistem dalam Batombe sendiri, pendendang tidak menggunakan panduan teks pantun, akan tetapi mengalir dengan spontan, dan juga iringan dalam musiknya juga cenderung monoton. Salah satu hal yang menarik adalah, lantunan yang diucapakna menggambarkan keadaan faktual. Kesenian ini, juga akan melibatkan penonton saat berbalas pantun.
Buat pendengang ini sendiri, tidak memiliki batasan usia, jadi baik remaja ataupun dewasa bisa menjadi pendendang, dengan ketentuan memiliki banyak persediaan pantun, maka dari itu, bisa menjadi pendendang.Dendang ini, biasanya dipelajari dari kebiasan menonton tradisi ini, dan mencoba mempraktekannya. Buat pemain musik, terbatas untuk laki laki saja, dikarenakan lebih terbiasa dengan alat musik.
Tradisi ini berkemnang dan digelar juga di berbagai acara seperi: perkawinan, pembangunan rumah, batagak penghulu, menyambut tamu dan lainnya. Juga dalam hal musik dan aksesoris yang digunakan juga mengalami perkembangan, disesuaikan dengan perkembnagan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Website Resmi Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia