Sumbar - Rumah Gadang merupakan rumah adat Provinsi Sumatera Barat, dan merupakan icon dan kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. Rumah Gadang identik dengan atapnya yang runcing dan bagonjong atau juga menyerupai tanduk kerbau. Bagi masyarakat minangkabau, rumah adat ini tidak hanya berfungsi sebagi tempat tinggal saja. Akan tetapi, juga sebagai sarana untuk mengadakan berbagai kegiatan, seperti: kegiatan adat, pernikahan, musyawarah dan kegiatan lainnya.
Rumah gadang sendiri, juga memiliki 2 jenis, yaitu: Rumah Gadang Kota Piliang dan Rumah Gadang Bodi Chaniago. Kemudian juga dibagi menjadi 8 jenis, seperti. bangunan gadang, rumah bagonjong dua, dan rumah bagonjong empat.
Baca juga: Mengenal Permainan Padel Yang Lagi Banyak Diminati Berbagai Kalangan
Dalam rumah gadang terdapat berbagai macam ukiran yang indah dan memiliki makna tersendiri. Ukiran ukiran ini, pada awalnya berasal dari gambaran ragam hias timbul, yang tercipta dari seni orang asli minangkabau. Ukiran ukiran tersebut, mempunyai makna khasanah, nilai dan makna budaya minangkabau. Berikut akan dijelasakan makna dari setiap ukiran tersebut.
1. Kaluak Paku
Ukiran yang pertama adalah Kaluak Paku (tumbuhan pakis), yang di mana ukiran ini melambangkan ajaran “kaluak paku, kacang balimbiang, anak dipangku, kamakanan di bimbiang”. Artinya di sini adalah anak dan kemenakan akan menjadi tanggung jawab laki laki dewasa di Minangkabau. Tugas utama laki laki, tidak hanya kepada anak anaknya saja, akan tetapi juga ke saudara perempuannya.
2. Pucuak Rabuang
Selanjutnya ada Pucuak Rabuang, (rebung) yang merupakan tunas bambu. Ukiran ini, memiliki makna filosofis untuk hidup seperti bambu. “ketek baguno, gadang ta pakai”. Atau dalam Bahasa Indonesia, artinya”waktu kecil bermanfaat dan ketika besar bisa diandalkan. Sama seperti bambu, ketika masih kecil, tunasnya bisa dimasak dan ketika besar, tidak kehilangan manfaat, yang di mana bisa dipakai untuk membangun.
Baca juga: Mengenal Berbagai Tokoh dan Pahlawan Nasional Asli Orang Minangkabau, Siapa Aja Ya?
3. Saluak Laka
Kemudian ada Saluak Laka, sebagai bentuk dari sistem kekeluargaan di Minangkabau.
4. Jalo Taserak
Ukiran Jalo Taserak, melambangkan sistem pemerintahan lareh bodi chaniago.
5. Jarek Takambang
Selanjutnya ada ukiran Jarek Takambang, jarek di sini berarti (jerat) yang merupakan alat penangkap binatang darat, sepeti: ayam, rusa, dan burung. Jarek Takambang berfungsi sebagai, pemerintahan lareh koto piliang atau Datuk Ketumanggungan, yaitu dengan menjebak orang yang bersalah untuk membuktikan kesalahannya, dan kemudian akan diadili.
6. Si Kambang Manih dan Sirah Gadang
Kemudian ada si Kambang Manih dan Siriah Gadang (daun sirih) ssebagai lambah keramah tamahan masyarakat minang.
7. Itiak Pulang Patang
Ukiran Itiak Pulang Patang, (itik pulang di sore hari) mengartikan bahwa masyarakat minang adalah orang yang tertib. Diibaratkan bagaiaman itik yang berbaris dengan rapi ketika pulang ke kendang.
8. Saik Galamai
Terakhir ada Saik Galamai, sebagai lambang bahwa orang minag, adalah orang yang teliti. Galamai sendiri adalah makanan yang terbuat dari daerah minangkabau yang kenyal. Ketika memotongnya harus dengan teliti, jika tidak tangan adalah taruhan. Filsafat kehati hatian yang digunakan dalam ukiran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Tiktok/baksointel_