Sumbar - Minangkabau kaya akan berbagai kesenian tradisional, makanan khas dari berbagai daerah, adat istiadat serta beragam pepatah dan peribahasa, yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari masyarakat.
Pepatah ini kerap kali diucapkan oleh orang yang lebih tua, seperti: orang tua, guru, atau siapapun, kepada mereka yang muda sebagai nasehat dan bekal kehidupan di masa kini dan untuk masa mendatang. Pepatah pepatah tersebut, pastinya mempunyai nilai dan makna mendalam. Berikut akan dipaparkan beberapa pepatah dan peribahasa di Minangkabau.
1. Sakali Aia Gadang, Sakali Tapian Barubah
Pepatah yang pertama adalah “Sakali Aia Gadang Sakali Tapian Barubah.” Maksudnya adalah, aliran air yang besar, pastinya akan merubah tepian. Pada tepian itu juga, terdapat banyak aktivitas aktivitas kehidupan berlangsung. Sehingga, perubahan yang terjadi akan membawa dampak dan merugikan banyak orang.
Baca juga: 3 Gunung Tertinggi Di Sumatera Barat: Ada Gunung Favoritmu?
Air gadang atau dalam Bahasa Indonesia (air yang bervolume besar) dapat diartikan sebagai peristiwa sosial yang tidak terkendali. Contohnya ketika ekonomi, hukum, sosial, dan budaya berada di luar kendali penguasa. Dalam masalah tersebut, para penguasa dan petinggi, harus bisa agar tetap berada pada jalur yang benar, dan sesuai dengan aturannya.
Kesimpulan dari pepatah ini, penguasa dan masyarakat harus tetap berada pada aturan yang berlaku, karena jika salah satu pihak keluar dari jalurnya, maka hal itu akan menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Serta menjadi pembenaran pada hal yang salah. Dalam hal ini, niniak mamak (pemimpin adat), harus bisa menjadi contoh dan menegakkan kebenaran.
2. Taimpik Nak Di Ateh, Takuruang Nak Di Lua
Selanjutnya ada peribahasa, “Taimpik Nak Di Ateh, Takuruang Nak Di Lua”. Secara logis, sesuatu yang taimpik (terhimpit) tidak mungkin bisa berada di atas, begitu juga dengan takuruang (terkurung) tidak mungkin berada di luar. Pada masyarakat Minangkabau, peribahasa ini mempunyai makna, keinginan seseorang untuk keluar dari segala tekanan dan batasan.
Sehingga bisa diartikan, keinginan untuk berusaha keluar dari tekanan dan keterpurukan. Peribahasa ini, memiliki pesan moral bahwa, jika tidak ikut dalam suatu keputusan bersama, malah akan menimbulkan tekanan batin pada orang tersebut.
3. Baariak Tando Tak Dalam, Badanciang Tando Tak Barisi
Terakhir ada pepatah “Baariak Tando Tak Dalam, Badanciang Tando Tak Barisi”. Dalam Bahasa Indonesia, pepatah ini bisa diibaratkan bahwa air yang beriak, menandakan bahwa kedalamannya dangkal, dan benda yang berdenting saat diketuk, berarti tidak berisi.
Pesan ini berisi makna bahwa, orang yang banyak bicara dan suka menonjolkan diri, sering kali adalah orang yang dangkal atau bahkan kosong dalam hal pemikiran, dan belum matang secara sikap. Hal ini berbeda dengan seseorang yang berilmu, justru lebih tenang dan tidak menonjolkan diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tiktok/alua.jo.patuik0