Sumbar - Zaman Kolonial Belanda dulu meninggalkan banyak cerita sejarah perjuangan bangsa Indonesia, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Di mana berbagai macam buktinya bisa kita lihat saat ini. Baik berupa bangunan peninggalan Belanda, benteng, senjata senjata dan lainnya. Di mana semua itu masih terjaga dan dijadikan situs ataupun cagar budaya sampai wisata sejarah
Salah satunya situs sejarah yang berada di Kabupaten Tanah Datar, yaitu Benteng Marapalam. Lalu apa sebenarnya yang terjadi kala itu? bagaiamana sejarahnya? Berikut di bawah ini, akan dijelaskan mengenai situs sejarah Benteng Marapalam.
Benteng Marapalam ini dulunya adalah simbol dari keteguhan hati dari kaum Padri yang berada di Lintau, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Tembok ini kemudian juga menjadi saksi adanya runtuh sebuah satu janji tentang perdamaian yang kala itu berubah menjadi lautan darah.
Hal ini dikarenakaan adanya pengkhianatan oleh Kolonial Belnada pada saat masa damai, dari tahun 1824 – 1831. Kala itu masyarakat Lintau mempercayai jika perang sudah selesai dan ketika itu juga semua senjata disimpan. Baik berupa bedil dan juga parit serta kehidupan damai telah di mulai kembali
Nyatanya waktu itu pihak dari Kolonial Belanda ternyata sedang membangun kekuatan, guna balas dendam, atas gagalnya serangan dari mereka yang terjadi pada tahun 1821 sampai 1822. Saat itulah Kolonial Belanda kembali menyerang. Di saat warga pribumi Sudah merasa aman dna tentram.
Serangan tersebut dimulai pada fajar dini hari, tepatnya pada 6 Agustus 1831 terjadi dentuman meriam saat berlangsungnya adzan subuh berkumandang. Kolonial Belanda mulai melakukan penyerangan dan menyerbu Benteng Marapalam, tanpa ada peringatan sebelumnya.
Baca juga: Daftar UMKM Unggulan yang Ada di Kabupaten Padang Pariaman Beserta Sentra Produksi dan Galeri UMKM
Dikarenakan tidak adanya persiapan sama sekali, kaum pribumi waktu itu tidak bisa bertahan dan menahan lajunya pasukan Kolonial Belanda dan menyebabkan Benteng Marapalam itu akhirnya tumbang.
Setelah tragedi di Benteng Marapalam tersebut, setahun berikutnya Kolonial Belanda kembali mneyerang. Kali ini dengan membumihanguskan semua daerah di Lintau. Di mana kejadian ini termasuk ke dalam salah satu penaklukan paling total yang terjadi di wilayah pedalaman di Sumbar.
Walaupun runtuhnya Benteng Marapalam pada bulan Agustus, akan tetapi tidak menyurutkan semangat warga pribumi dalam mempertahankan marwah dan martabat bangsa Indonesia. Sampai detik ini, Benteng Marapalam masih senantiasa ada di dalam ingatan. Sebagai suatu pengingat bagi semua untuk terus mengingat jas ajasa pengorbanan pejuang dan leluhur dalam mempertahankan tanah air
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tiktok/bakrisihijab