Jumat, 08 MEI 2026 • 16:00 WIB

Memiliki Julukan Sebagai “Kota Budaya”: Berikut Sejarah Alasan Dibalik Julukan Tersebut! Lengkap Dengan Fakta Menarik Kota Batusangkar

Author

Istana Basa Pagaruyuang (Website/rentalmobilpadang)

Sumbar - Kota Batusangkar memiloki beragam objek wisata yang menarik, penuh akan nilai budaya, sejarah serta juga keindahan alamnya yang menawan. Tidak heran mengapa Ibukota Kabupaten Tanah Datar ini, merupakan salah satu pilihan banyak wisatawan untuk menghabiskan waktu libur mereka. 

Selain itu kota satu ini, juga terkenal akan julukan atau sebutannya sebagai “kota budaya”. Lalu apa sebenarnya yang melatar belakangi julukan atau penamaan tersebut. Apakah karena ragam objek wisata sejarahnya saja tau ada hal lain juga? Di Bawah ini sudah disajikan buat kamu, alasan dibalik Kota Batusangkar memiliki julukan “kota budaya” lengkap juga dengan fakta menarik dari Ibukota Kabupaten Tanah Datar ini. Simak ulasan lebih lengkapnya 

Sejarah dan Alasan Dibalik julukan “Kota Budaya”, pada Kota Batusangkar 

Kota Batusangkar memiliki julukan sebagai “Kota Budaya” dikarenakan merupakan ikon dari wisata budaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Selain itu juga terdapat alasan lainya. Berikut di bawah ini penjabaran lebih lengkap. 

Baca juga: Dampingi Mentri PU: Anggota Komisi V DPR RI Zigo Rolanda Lakukan Peninjauan Pembangunan Sekolah Rakyat di Dharmasraya

1. Terdapat Banyak Festival Budaya 


Alasan pertama yang mendasar, mengapa kota satu ini dijuluki “Kota Budaya” dikarenkan terdapat banyaknya festival budaya alam Minangkabau di sini. Sebagai contohnya terdapat event yang namanya “ Satu Nagari Sate Event” Hal inilah yang membuat kota ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Selain itu juga ada pacu jawi, Pesona 1000 Baju Milik Nagari Magek, Festival Sumoah Sati Bukit Marapalam dan masih banyak lagi. 

2. Pacu Jawi 


Berikutnya di kota ini terdapat suatu tradisi atau event kebanggaan yang bernama pacu jawi. Pada pelaksanaanya, pacu jawi ini digelar pada setelah panen, serta diadakan sebagai bentuk dari adanya rasa syukur karena hasil panan yang melimpah. 

3. Balairung Sari 

Baca juga: Masih Dalam Rangka Persiapan 1 Abad Jam Gadang Pemko Bukittinggi Siapkan IMLF yang ke 4


Poin ketiga terdapat Balairung Sari, yang saat ini sudah masuk sebagai daftar cagar budaya di Provinsi Sumatera Barat. Balairung Sari merupakan sebuah balai adat yang di mana terbuat dari kayu dengan atapnya terbuat dari ijuk dna juga lengkap dengan 6 gonjongnya. 

4. Istana Basa Pagaruyuang 


Terkahir Kota Batusangkar ini juga terkenal akan keberadaan Istana Basa Pagaruyuang, yang merupakan peninggalan Kerajaan Pagaruyuang. Istana ini juga sempat mengalami insiden kebakaran. Kemudian dibuatlah replika istana ini, yang saat ini sudah jadi objek wisat sejarah. Yaitu berada di Kecamatan Tj. Emas, Kabupaten Tanah Datar  

Fakta Fakta Menarik Kota Batusangkar 

Baca juga: Macam Macam Tempat Snorkeling di Sumatera Barat! Simak Selengkpanya

1. Istana Basa Pagaruyang yang merupakan Bangunan Tahan Gempa 


Dibalik megah dan kisah sejarahnya yang panjang dari Istana Basa Pagaruyung, bangunan sekaligus objek bersejarah ini memiliki fakta bahwa merupakan bangunan yang tahan akan gempa. Kayu yang digunakan dalam pembangunannya bukan kayu biasa. Melainkan kayu yang dipilih khusus agar bisa menahan gempa.  Serta pada kayunya dihiasi juga dengan sebanyak 60 ukiran yang memeilki filosifi serta budaya alam Minangkabau. 

2. Masjid tertua di Indonesia

 
Fakta selanjutnya masih bersangkutan soal bangunan. Kota ini memiliki bangunan tertua yaitu berupa masjid tertua di Indonesia. Yaitu Masjid Raya Rao Rao. Memiliki luas 16 X 16 meter persegi serta keunikan pada gaya arstitekturnya yang menggabungkan corak 3 negara. Antara lain” Eropa, Melayu dan Timur Tengah. 

3. Batikam 


Berikutnya memiliki Batikam yang merupakan salah satu cagar budaya yang memiliki nilai sejarah yang dalam. Batikam sendiri merupakan batu dengan adanya bekas tusukan keris dari Datuk Parpatiah Nan Sabatang. Serta memiliki luas 1.800 m2, merupakan bukti adanya kerajaan Minang pada saat zaman Neolitikum. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU