Ilustrasi pembangunan (Freepik/freepik)
Sumbar - Beberapa bulan yang lalu, terjadi bencana banjir bandang dan longsor di 3 provinsi di Indonesia. Antara lain, Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Di mana dampak dari bencana alam yang terjadi ini sangat banyak dirasakan oleh warga, seperti rumah rumah yang rusak, hanyut, infrastruktur yang rusak, rusaknya lingkungan sekitar, lahan pertanian dan persawahan serta matinya perekonomian masyarakat yang terdampak.
Adapun kerusakan dari segi material yang dirasakan antara lain:
1. 493 rumah mengalami kerusakan ringan
2. 359 mengalami kerusakan sedang
3. 600 rumah mengalami kerusakan berat
4. 67 jembatan mengalami kerusakan
5. 49 jalan mengalami kerusakan
Kemudian terdapat juga kerusakan fasilitas umum seperti:
1. 106 fasilitas Pendidikan
2. 125 irigasi
3. 16 bendungan
4. 5.025 ternak warga mati
5. 1.813,70 hektare lahan pertanian juga mengalami kerusakan
Tidak hanya dari segi material saja, bencana hidrometeorologi ini juga mengakibatkan warga, kehilanagn anggota keluarganya. Berdasarkan dari data Badan Penaggulangan bencana Daerah (BPBD), menyatakan bahwa di Kabupaten Agam terdapat ada
1. 192 orang yang meninggal dunia
2. 72 orang dalam status hilang
3. 9 orang dalam perawatan medis
4. 160 orang yang terisolasi.
Kemudian ada 4.298 orang yang mengungsi, dan tersebar di berbagai titik, antara lain
1. Palembayan 903
2. Palupuh 128
3. Tanjung Raya 2.866
4. Ampek Koto 49
5. Matur 350 orang
Berdasarkan hasil dari data tersebut, Pemerintah Kabupaten Agam akan melakukan pembangunan hunian sementara (huntara), yang difungsikan untuk semua warga yang berada di wilayah hukum pemerintahnnnya, yang terdampak bencana alam ini.
Pada hari Jumat, tanggal 12 Desember 2025 Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Muhammad Lutfi AR, menyatakan bahwa pembangunan hunian sementara ini, akan dilakukan di tiga Lokasi yaitu:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan